Pada malam itu, seorang gadis bertengkar dengan ibunya.
Karena sangat marah, gadis itu segera meninggalkan rumah tanpa membawa apapun.
Saat berjalan di suatu jalan, ia baru menyadari bahwa ia sama sekali tdk membawa uang.
Saat menyusuri sebuah jalan, ia melewati sebuah kedai bakmi dan ia mencium harumnya aroma masakan.
Ia ingin sekali memesan semangkuk bakmi, tetapi ia tdk mempunyai uang.
Pemilik kedai melihat gadis itu berdiri cukup lama di depan kedainya, lalu berkata “Nona, apakah engkau ingin memesan semangkuk bakmi?”
” Ya, tetapi, aku tdk membawa uang” jawab gadis itu dengan malu-malu
“Tidak apa-apa, aku akan mentraktirmu” jawab si pemilik kedai. “Silahkan duduk, aku akan memasakkan bakmi untukmu”.
Tidak lama kemudian, pemilik kedai itu mengantarkan semangkuk bakmi.
Gadis itu segera makan beberapa suap, kemudian air matanya mulai berlinang.
“Adaapa nona?” Tanya si pemilik kedai.
“tidak apa-apa” aku hanya terharu jawab gadis itu sambil mengeringkan air matanya.
“Bahkan, seorang yang baru kukenal pun memberi aku semangkuk bakmi !, tetapi,…
ibuku sendiri, setelah bertengkar denganku, mengusirku dari rumah dan mengatakan kepadaku agar jangan kembali lagi ke rumah”
“Kau, seorang yang baru kukenal, tetapi begitu peduli denganku dibandingkan dengan ibu kandungku sendiri” katanya kepada pemilik kedai
Pemilik kedai itu setelah mendengar perkataan gadis itu, menarik nafas panjang dan berkata
“Nona mengapa kau berpikir seperti itu? Renungkanlah hal ini, aku hanya memberimu semangkuk bakmi dan kau begitu terharu. Ibumu telah memasak makanan utukmu saat kau kecil sampai saat ini, mengapa kau tidak berterima kasih kepadanya? Dan kau malah bertengkar dengannya”
Gadis itu, terhenyak mendengar hal tersebut.
“Mengapa aku tidak berpikir tentang hal tersebut? Untuk semangkuk bakmi dari orang yg baru kukenal, aku begitu berterima kasih, tetapi kepada ibuku yg memasak untukku selama bertahun-tahun, aku bahkan tidak memperlihatkan kepedulianku kepadanya. Dan hanya karena persoalan sepele, aku bertengkar dengannya.
Gadis itu segera menghabiskan bakminya, lalu ia mnguatkan dirinya untuk segera pulang ke rumahnya.
Saat berjalan ke rumah, ia memikirkan kata-kata yg harus diucapkan kepada ibunya.
Begitu sampai di ambang pintu rumah, ia melihat ibunya dengan wajah letih dan cemas.
Ketika ibu gadis itu bertemu dengan anaknya, kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah “Kau sudah pulang nak, cepat masuklah, ibu telah menyiapkan makan malam dan makanlah dahulu sebelum kau tidur, makanan akan menjadi dingin jika kau tidak memakannya sekarang”
Pada saat itu gadis itu tdk dapat menahan tangisnya dan ia menangis dihadapan ibunya.
*********************
Sekali waktu, kita mungkin akan sangat berterima kasih kepada orang lain disekitar kita untuk suatu pertolongan kecil yang diberikan kepada kita.
Tetapi kepada orang yang sangat dekat dengan kita (keluarga) khususnya orang tua kita, kita harus ingat bahwa kita berterima kasih kepada mereka seumur hidup kita —
CSS
Tampilkan postingan dengan label KISAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KISAH. Tampilkan semua postingan
Selasa, 17 September 2013
Meja Kayu
Suatu ketika, ada seorang kakek yang harus tinggal dengan anaknya. Selain itu, tinggal pula menantu, dan anak mereka yang berusia 6 tahun. Tangan orangtua ini begitu rapuh, dan sering bergerak tak menentu. Penglihatannya buram, dan cara berjalannya pun ringkih. Keluarga itu biasa makan bersama di ruang makan. Namun, sang orangtua yang pikun ini sering mengacaukan segalanya. Tangannya yang bergetar dan mata yang rabun, membuatnya susah untuk menyantap makanan. Sendok dan garpu kerap jatuh ke bawah. Saat si kakek meraih gelas, segera saja susu itu tumpah membasahi taplak.
Anak dan menantunya pun menjadi gusar. Mereka merasa direpotkan dengan semua ini. “Kita harus lakukan sesuatu, ” ujar sang suami. “Aku sudah bosan membereskan semuanya untuk pak tua ini.” Lalu, kedua suami-istri ini pun membuatkan sebuah meja kecil di sudut ruangan. Disana, sang kakek akan duduk untuk makan sendirian, saat semuanya menyantap makanan. Karena sering memecahkan piring, keduanya juga memberikan mangkuk kayu untuk si kakek.
Sering, saat keluarga itu sibuk dengan makan malam mereka, terdengar isak sedih dari sudut ruangan. Ada airmata yang tampak mengalir dari gurat keriput si kakek. Namun, kata yang keluar dari suami-istri ini selalu omelan agar ia tak menjatuhkan makanan lagi. Anak mereka yang berusia 6 tahun memandangi semua dalam diam.
Suatu malam, sebelum tidur, sang ayah memperhatikan anaknya yang sedang memainkan mainan kayu. Dengan lembut ditanyalah anak itu. “Kamu sedang membuat apa?”. Anaknya menjawab, “Aku sedang membuat meja kayu buat ayah dan ibu untuk makan saatku besar nanti. Nanti, akan kuletakkan di sudut itu, dekat tempat kakek biasa makan.” Anak itu tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya.
Jawaban itu membuat kedua orangtuanya begitu sedih dan terpukul. Mereka tak mampu berkata-kata lagi. Lalu, airmatapun mulai bergulir dari kedua pipi mereka. Walau tak ada kata-kata yang terucap, kedua orangtua ini mengerti, ada sesuatu yang harus diperbaiki. Malam itu, mereka menuntun tangan si kakek untuk kembali makan bersama di meja makan. Tak ada lagi omelan yang keluar saat ada piring yang jatuh, makanan yang tumpah atau taplak yang ternoda. Kini, mereka bisa makan bersama lagi di meja utama.
=====================
Sahabat, anak-anak adalah persepsi dari kita. Mata mereka akan selalu mengamati, telinga mereka akan selalu menyimak, dan pikiran mereka akan selalu mencerna setiap hal yang kita lakukan. Mereka ada peniru. Jika mereka melihat kita memperlakukan orang lain dengan sopan, hal itu pula yang akan dilakukan oleh mereka saat dewasa kelak. Orangtua yang bijak, akan selalu menyadari, setiap “bangunan jiwa” yang disusun, adalah pondasi yang kekal buat masa depan anak-anak.
Mari, susunlah bangunan itu dengan bijak. Untuk anak-anak kita, untuk masa depan kita, untuk semuanya. Sebab, untuk mereka lah kita akan selalu belajar, bahwa berbuat baik pada orang lain, adalah sama halnya dengan tabungan masa depan.
kisah DUA EKOR TIKUS
Di dalam got yang gelap hiduplah dua ekor tikus yang saling bersaudara. Suatu saat kedua ekor tikus ini melihat sebuah roti keju dari lubang sebuah selokan. Tikus-tikus ini ingin sekali memakannya tetapi sayang lubang selokan itu tertutup oleh jeruji besi yang sangat kuat.
Kedua tikus ini berusaha sekuat tenaga untuk menghancurkan jeruji besi itu dengan gigi-gigi mereka yang tajam tetapi gigi mereka mulai rusak karena jeruji besi itu terlalu keras bagi gigi mereka yang kecil.
Kedua ekor tikus ini kecapaian, dan butuh istirahat. Tikus pertama berkata dalam hatinya: “Aku tidak akan menyerah, setelah ini aku akan menghancurkan jeruji besi itu dengan sekuat tenagaku. Pantang menyerah adalah pangkal dari keberhasilan !” Tikus kedua termenung dan berpikir : “Aku akan kehilangan semua gigiku jika aku nekat menggigiti jeruji itu. Ada baiknya kalau aku mengambil jalan lain saja untuk mendapatkan roti keju itu.”
Setelah beristirahat sejenak, tikus pertama mulai menggigiti lagi jeruji besi itu dengan sekuat tenaga sedangkan tikus kedua mundur diri dari usahanya. Melihat tikus kedua mundur diri tikus pertama mulai mengejek saudaranya itu katanya : “Kamu itu sifatnya mudah menyerah dan tidak ulet bekerja, mana mungkin kamu bias berhasil dalam kehidupanmu?” Tikus kedua tidak mempedulikan ejekan saudaranya, dia mundur mencari jalan lain ke tempat roti keju itu.
Akhirnya tikus kedua berhasil memperoleh jalan ke tempat roti keju itu sedangkan tikus pertama kelelahan dan hancur giginya karena menggigiti jeruji besi itu.
Cerita ini merupakan cerita yang agak kontradiktif tetapi yang ingin disampaikan dari cerita ini adalah hendaklah kita memakai kejelian dan kecerdasan kita untuk memecahkan masalah kita dan bukan hanya mengandalkan keuletan dan kerajinan kita untuk bekerja. Pantang menyerah cukup baik, tetapi jika tanpa kecerdasan semuanya sia-sia, maka pakailah kecerdasan kita.
Sabtu, 19 Januari 2013
PERNAHKAH KAMU DICINTAI SESEORANG SEPERTI INI ?
Seseorang yang mencintai kamu... Tidak bisa
memberi alasan, mengapa ia mencintaimu... Dia hanya tahu, di mata dia,
kamulah satu-satu nya...
Seseorang yang mencintai kamu...
Sebenarnya selalu membuatmu marah, gila, jengkel, stress...
Tapi ia tidak pernah tahu hal bodoh apa yang sudah ia lakukan, karena semua yang ia lakukan adalah untuk kebaikanmu...
Seseorang yang mencintai kamu...
Jarang memujimu...
Tetapi di dalam hatinya, kamu adalah yang terbaik...
Hanya itu yang ia tahu...
Seseorang yang mencintai kamu...
Akan marah atau mengeluh...
Jika kamu tidak membalas pesannya atau teleponnya...
Karena ia peduli, dan tidak ingin sesuatu terjadi padamu...
Seseorang yang mencintai kamu...
Hanya menjatuhkan air matanya di hadapanmu...
Dan, ketika kamu mencoba menghapus air matanya, kamu telah menyentuh hatinya...
Di mana hatinya selalu berdegup, berdenyut, bergetar untukmu...
Seseorang yang mencintai kamu...
Akan mengingat setiap kata yang kamu ucapkan...
Yang sengaja terucap, atau bahkan yang tidak sengaja...
Dan ia akan selalu menggunakan kata-kata itu, tepat pada waktunya...
Seseorang yang mencintai kamu...
Tidak akan memberikan janji apapun dengan mudah...
Karena ia tidak mau mengingkari janjinya...
Ia ingin kamu untuk mempercayainya...
Dan ia ingin memberikan hidup yang paling bahagia dan aman untukmu selamanya...
Seseorang yang mencintai kamu...
Mungkin tidak bisa mengingat kejadian atau kesempatan istimewa, seperti perayaan hari ulang tahunmu, atau yang lainnya... Tapi ia tahu bahwa setiap detik yang ia lalui adalah saat di mana... Ia mencintai kamu, dan tidak peduli hari apakah ini...
Pernahkan kita mencintai dan dicintai seperti ini...?
Seseorang yang mencintai kamu...
Sebenarnya selalu membuatmu marah, gila, jengkel, stress...
Tapi ia tidak pernah tahu hal bodoh apa yang sudah ia lakukan, karena semua yang ia lakukan adalah untuk kebaikanmu...
Seseorang yang mencintai kamu...
Jarang memujimu...
Tetapi di dalam hatinya, kamu adalah yang terbaik...
Hanya itu yang ia tahu...
Seseorang yang mencintai kamu...
Akan marah atau mengeluh...
Jika kamu tidak membalas pesannya atau teleponnya...
Karena ia peduli, dan tidak ingin sesuatu terjadi padamu...
Seseorang yang mencintai kamu...
Hanya menjatuhkan air matanya di hadapanmu...
Dan, ketika kamu mencoba menghapus air matanya, kamu telah menyentuh hatinya...
Di mana hatinya selalu berdegup, berdenyut, bergetar untukmu...
Seseorang yang mencintai kamu...
Akan mengingat setiap kata yang kamu ucapkan...
Yang sengaja terucap, atau bahkan yang tidak sengaja...
Dan ia akan selalu menggunakan kata-kata itu, tepat pada waktunya...
Seseorang yang mencintai kamu...
Tidak akan memberikan janji apapun dengan mudah...
Karena ia tidak mau mengingkari janjinya...
Ia ingin kamu untuk mempercayainya...
Dan ia ingin memberikan hidup yang paling bahagia dan aman untukmu selamanya...
Seseorang yang mencintai kamu...
Mungkin tidak bisa mengingat kejadian atau kesempatan istimewa, seperti perayaan hari ulang tahunmu, atau yang lainnya... Tapi ia tahu bahwa setiap detik yang ia lalui adalah saat di mana... Ia mencintai kamu, dan tidak peduli hari apakah ini...
Pernahkan kita mencintai dan dicintai seperti ini...?
Istri yang Menyejukkan Hati
Sebaris kisah ini dapat menjadi inspirasi bagi seorang istri yang
ingin menjadi perhiasan terindah dunia dan bidadarinya akhirat yaitu
wanita shalihah. Semoga melalui kisah ini dapat menjadi inspirasi bagi
seseorang yang mendambakan keluarga sakinah mawadah wa rahmah yang
diridhai oleh Allah ‘Azza wa jalla
Ia menceritakan pengalamannya:
“Ketika aku menikahi Zainab binti Hudair aku berkata dalam hati: Aku
telah menikah dengan seorang wanita Arab yang paling keras dan paling
kaku tabiatnya. Aku teringat tabiat wanita-wanita bani Tamim dan
kerasnya hati mereka. Aku berkeinginan untuk menceraikannya. Kemudian
aku berkata (dalam hati): “Aku pergauli dulu (yaitu menikah dan
berhubungan dengannya), jika aku dapati apa yang aku suka, aku tahan ia.
Dan jika tidak, aku ceraikan ia.”
Kemudian datanglah wanita-wanita bani Tamim mengantarkannya. Dan
setelah ditempatkan dalam rumah, aku berkata, “Wahai fulanah,
sesungguhnya menurut sunnah apabila seorang wanita masuk menemui
suaminya hendaklah si suami shalat dua rakaat dan si istri juga shalat
dua rakaat.”
Akupun bangkit mengerjakan shalat kemudian aku menoleh ke belakang
ternyata ia ikut shalat di belakangku. Seusai shalat para budak-budak
wanita pengiringnya datang dan mengambil pakaianku dan memakaikan padaku
pakaian tidur yang telah dicelup dengan za’faran.
Dan tatkala rumah sudah kosong, aku mendekatinya dan aku ulurkan tanganku kepadanya. Ia berkata, “Tahan dulu (sabar dulu).”
Aku berkata dalam hati, “Satu malapetaka telah menimpa diriku.” (yakni musibah telah menimpa dirinya)
Aku berkata dalam hati, “Satu malapetaka telah menimpa diriku.” (yakni musibah telah menimpa dirinya)
Lalu ia memuji Allah kemudian memanjatkan shalawat atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
lalu berkata, “Aku adalah seorang wanita Arab. Demi Allah, aku tidak
pernah melangkah kecuali kepada perkara yang diridhai Allah. Dan engkau
adalah lelaki asing, aku tidak mengenali perilakumu (yakni aku belum
mengenal tabiatmu).
Beritahulah kepadaku apa saja yang engkau suka hingga aku akan melakukannya dan apa saja yang engkau benci hingga aku bisa menghindarinya.”
Beritahulah kepadaku apa saja yang engkau suka hingga aku akan melakukannya dan apa saja yang engkau benci hingga aku bisa menghindarinya.”
Aku berkata kepadanya, “Aku suka begini dan begini (Syuraih
menyebutkan satu persatu perkataan, perbuatan, makanan dan segala
sesuatu yang disukainya) dan aku benci begini dan begini (Syuraih
menyebutkan semua perkara yang ia benci).”
Ia berkata lagi, “Beritahukan kepadaku siapa saja anggota keluargaku yang engkau suka bila ia mengunjungimu?”
Aku (Syuraih) berkata, “Aku adalah seorang qadhi, aku tidak suka mereka (anggota keluargamu) membuatku bosan.”
Aku (Syuraih) berkata, “Aku adalah seorang qadhi, aku tidak suka mereka (anggota keluargamu) membuatku bosan.”
Maka akupun melewati malam yang paling indah, dan aku tidur tiga malam bersamanya. Kemudian aku keluar menuju majelis qadha’, dan aku tidak melewati satu hari melainkan hari itu lebih baik daripada hari sebelumnya.
Tibalah waktu kunjungan mertua.
Yaitu genap satu tahun (setelah berumah tangga).
Aku masuk ke dalam rumahku. Aku dapati seorang wanita tua sedang menyuruh dan melarang.
Aku bertanya, “Hai Zainab, siapakah wanita ini?”
Istriku menjawab, “Ia adalah ibuku.”
“Marhaban”, sahutku.
Ia (ibu mertua) berkata, “Bagaimana keadaanmu hai Abu Umayyah?”
“Alhamdulillah baik-baik saja”, jawabku.
“Bagaimana keadaan istrimu?” Tanyanya.
Aku menjawab, “Istri yang paling baik dan teman yang paling cocok. Ia mendidik dengan baik dan membimbing adab dengan baik pula.”
Yaitu genap satu tahun (setelah berumah tangga).
Aku masuk ke dalam rumahku. Aku dapati seorang wanita tua sedang menyuruh dan melarang.
Aku bertanya, “Hai Zainab, siapakah wanita ini?”
Istriku menjawab, “Ia adalah ibuku.”
“Marhaban”, sahutku.
Ia (ibu mertua) berkata, “Bagaimana keadaanmu hai Abu Umayyah?”
“Alhamdulillah baik-baik saja”, jawabku.
“Bagaimana keadaan istrimu?” Tanyanya.
Aku menjawab, “Istri yang paling baik dan teman yang paling cocok. Ia mendidik dengan baik dan membimbing adab dengan baik pula.”
Ia berkata, “Sesungguhnya seorang wanita tidak akan terlihat dalam
kondisi yang paling buruk tabiatnya kecuali pada dua keadaan: Apabila
sudah punya kedudukan di sisi suaminya dan apabila telah melahirkan
anak. Apabila engkau melihat sesuatu yang tak mengenakkan padanya pukul
saja. Karena, tidaklah kaum lelaki memperoleh sesuatu yang lebih buruk
dalam rumahnya selain wanita warhaa’ (yaitu wanita yang tidak punya kepandaian dalam melakukan tugasnya).
Syuraih berkata, “Ibu mertuaku datang setiap tahun sekali kemudian ia
pergi sesudah bertanya kepadaku tentang apa yang engkau sukai dari
kunjungan keluarga istrimu ke rumahmu?” Aku menjawab pertanyaannya,
“Sekehendak mereka!” Yaitu sesuka mereka saja.
Aku hidup bersamanya selama dua puluh tahun, aku tidak pernah sekalipun mencelanya dan aku tidak pernah marah terhadapnya.”
Sabtu, 20 Oktober 2012
"BERHARGANYA 1 TARIKAN NAFAS"
"BERHARGANYA 1 TARIKAN NAFAS"
Pada saat akan meninggal, dalam keadaan kritis, Raja terkenal dari Macedonia, yaitu Alexander the Great atau Iskandar Agung... berkata pada para dokter yg merawatnya spt ini :
"Ambillah 1/2 dari kekayaanku, jika kamu dapat mengantarkan aku utk menemui ibuku sebentar saja "
Do
Pada saat akan meninggal, dalam keadaan kritis, Raja terkenal dari Macedonia, yaitu Alexander the Great atau Iskandar Agung... berkata pada para dokter yg merawatnya spt ini :
"Ambillah 1/2 dari kekayaanku, jika kamu dapat mengantarkan aku utk menemui ibuku sebentar saja "
Do
kter menjawab :
"Jangankan separuh, bahkan seluruh kekayaan Baginda diberikan kpd hamba sem
uanya, hamba pun tidak akan mampu menambah 1 tarikan nafas"
Mendengar jawaban tsb, air mata pun berlinang di pipi sang Raja, dia berkata :
" Seandainya saya tahu begitu berharganya 1 tarikan nafas, maka saya tdk akan pernah menyia2kan waktu hanya untuk mengejar kekuasaan "
Kemudian sang Raja pun berpesan, spy nanti sewaktu diarak dlm peti mati menuju peristirahatannya yg terakhir, ia minta agar kedua tangannya dikeluarkan,
supaya setiap rakyatnya dapat melihat bahwa Alexander Agung yg hebat dan mampu menguasai wilayah terbesar sepanjang sejarah kehidupan manusia ini ternyata harus berpulang dgn tangan kosong...
Tidak memiliki apa" dan tidak membawa apa" ........
Kelahiran & kematian adalah awal & akhir, yg terpenting dari hidup ini adalah bagaimana kita mengisi kehidupan yg ada diantara ke duanya.
God's beloved .....
Untuk itu, jangan lupa selalu mengutamakan Tuhan sang pemberi kehidupan kekal , selalu bersyukur di saat senang maupun menghadapi kesusahan.
Sisihkanlah waktu utk orang2 yg terdekat di hati Anda, karena sebenarnya waktu adalah hadiah paling berharga yg dapat Anda berikan utk orang2 yg anda sayangi...
...
"Jangankan separuh, bahkan seluruh kekayaan Baginda diberikan kpd hamba sem
uanya, hamba pun tidak akan mampu menambah 1 tarikan nafas"
Mendengar jawaban tsb, air mata pun berlinang di pipi sang Raja, dia berkata :
" Seandainya saya tahu begitu berharganya 1 tarikan nafas, maka saya tdk akan pernah menyia2kan waktu hanya untuk mengejar kekuasaan "
Kemudian sang Raja pun berpesan, spy nanti sewaktu diarak dlm peti mati menuju peristirahatannya yg terakhir, ia minta agar kedua tangannya dikeluarkan,
supaya setiap rakyatnya dapat melihat bahwa Alexander Agung yg hebat dan mampu menguasai wilayah terbesar sepanjang sejarah kehidupan manusia ini ternyata harus berpulang dgn tangan kosong...
Tidak memiliki apa" dan tidak membawa apa" ........
Kelahiran & kematian adalah awal & akhir, yg terpenting dari hidup ini adalah bagaimana kita mengisi kehidupan yg ada diantara ke duanya.
God's beloved .....
Untuk itu, jangan lupa selalu mengutamakan Tuhan sang pemberi kehidupan kekal , selalu bersyukur di saat senang maupun menghadapi kesusahan.
Sisihkanlah waktu utk orang2 yg terdekat di hati Anda, karena sebenarnya waktu adalah hadiah paling berharga yg dapat Anda berikan utk orang2 yg anda sayangi...
...
Gratis Sepanjang Masa
Gratis Sepanjang Masa
Suatu sore, seorang anak menghampiri ibunya di dapur. Ia menyerahkan selembar kertas yang telah ditulisinya. Setelah sang ibu mengeringkan tangannya dengan celemek. Ia pun membaca tulisan itu dan inilah isinya:
Untuk memotong rumput Rp. 5000
Untuk membersihkan kamar tidur minggu ini Rp. 5000
Untuk pergi ke toko disuruh ibu Rp. 3000
Suatu sore, seorang anak menghampiri ibunya di dapur. Ia menyerahkan selembar kertas yang telah ditulisinya. Setelah sang ibu mengeringkan tangannya dengan celemek. Ia pun membaca tulisan itu dan inilah isinya:
Untuk memotong rumput Rp. 5000
Untuk membersihkan kamar tidur minggu ini Rp. 5000
Untuk pergi ke toko disuruh ibu Rp. 3000
Untuk menjaga adik waktu ibu belanja Rp. 5000
Untuk membuang sampah Rp. 1000
Untuk nilai yang bagus Rp. 3000
Untuk membersihkan dan menyapu halaman Rp. 3000
Jadi jumlah utang ibu adalah Rp. 25000
Sang ibu memandangi anaknya dengan penuh harap. Berbagai kenangan terlintas dalam benak sang ibu. Lalu ia mengambil pulpen, membalikkan kertasnya. Dan inilah yang ia tuliskan:
Untuk sembilan bulan ibu mengandung kamu, gratis
Untuk semua malam ibu menemani kamu, gratis
Untuk membawamu ke dokter dan mengobati saat kamu sakit, serta mendoakan kamu, gratis
Untuk semua saat susah dan air mata dalam mengurus kamu, gratis
Kalau dijumlahkan semua, harga cinta ibu adalah gratis
Untuk semua mainan, makanan, dan baju, gratis
Anakku… dan kalau kamu menjumlahkan semuanya,
Akan kau dapati bahwa harga cinta ibu adalah GRATIS
Seusai membaca apa yang ditulis ibunya, sang anak pun berlinang air mata dan menatap wajah ibunya, dan berkata: “Bu, aku sayang sekali sama ibu” ia kemudian mendekap ibunya. Sang ibu tersenyum sambil mencium rambut buah hatinya.”Ibupun sayang kamu nak” kata sang ibu.
Kemudian sang anak mengambil pulpen dan menulis sebuah kata dengan huruf-huruf besar sambil diperhatikan sang ibu: “LUNAS”
-----
Untuk membuang sampah Rp. 1000
Untuk nilai yang bagus Rp. 3000
Untuk membersihkan dan menyapu halaman Rp. 3000
Jadi jumlah utang ibu adalah Rp. 25000
Sang ibu memandangi anaknya dengan penuh harap. Berbagai kenangan terlintas dalam benak sang ibu. Lalu ia mengambil pulpen, membalikkan kertasnya. Dan inilah yang ia tuliskan:
Untuk sembilan bulan ibu mengandung kamu, gratis
Untuk semua malam ibu menemani kamu, gratis
Untuk membawamu ke dokter dan mengobati saat kamu sakit, serta mendoakan kamu, gratis
Untuk semua saat susah dan air mata dalam mengurus kamu, gratis
Kalau dijumlahkan semua, harga cinta ibu adalah gratis
Untuk semua mainan, makanan, dan baju, gratis
Anakku… dan kalau kamu menjumlahkan semuanya,
Akan kau dapati bahwa harga cinta ibu adalah GRATIS
Seusai membaca apa yang ditulis ibunya, sang anak pun berlinang air mata dan menatap wajah ibunya, dan berkata: “Bu, aku sayang sekali sama ibu” ia kemudian mendekap ibunya. Sang ibu tersenyum sambil mencium rambut buah hatinya.”Ibupun sayang kamu nak” kata sang ibu.
Kemudian sang anak mengambil pulpen dan menulis sebuah kata dengan huruf-huruf besar sambil diperhatikan sang ibu: “LUNAS”
-----
Jumat, 07 September 2012
Kisah 4 Lilin
Kisah 4 Lilin
Ada 4 lilin yang sedang menyala. Sedikit demi sedikit habis meleleh. Suasana begitu sunyi sehingga terdengarlah percakapan mereka.
Lilin yang pertama berkata: “Aku adalah Damai."
"Namun manusia tak mampu menjagaku. Maka lebih baik aku mematikan diriku saja!”
Demikianlah sedikit demi sedikit sang lilin pertama padam.
Lilin yang kedua berkata: “Aku adalah Iman.”
Ada 4 lilin yang sedang menyala. Sedikit demi sedikit habis meleleh. Suasana begitu sunyi sehingga terdengarlah percakapan mereka.
Lilin yang pertama berkata: “Aku adalah Damai."
"Namun manusia tak mampu menjagaku. Maka lebih baik aku mematikan diriku saja!”
Demikianlah sedikit demi sedikit sang lilin pertama padam.
Lilin yang kedua berkata: “Aku adalah Iman.”
“Sayang aku tak berguna lagi. Manusia tak mau mengenalku. Tak ada gunanya aku tetap menyala.”
Begitu selesai bicara, tiupan angin memadamkannya.
Dengan sedih giliran lilin ketiga bicara: ”Aku adalah Cinta.”
“Tak mampu lagi aku untuk tetap menyala. Manusia tidak lagi memandang dan mengganggapku berguna. Mereka saling membenci. Bahkan membenci mereka yang mencintainya, membenci keluarganya.”
Tanpa menunggu waktu lama, maka matilah lilin ketiga.
Tanpa terduga…
Seorang anak saat itu masuk ke dalam kamar, dan melihat ketiga lilin telah padam.
Karena takut akan kegelapan itu, ia berkata: “Eh apa yang terjadi?? Kalian harus tetap menyala. Aku takut akan kegelapan!”
Lalu ia mengangis tersedu-sedu.
Lalu dengan terharu lilin keempat berkata:
"Jangan takut. Janganlah menangis. Selama aku masih ada dan menyala, kita tetap dapat selalu menyalakan ketiga lilin lainnya."
”Akulah HARAPAN.“
Dengan mata bersinar, sang anak mengambil Lilin Harapan, lalu menyalakan kembali ketiga lilin lainnya.
Apa yang tidak pernah mati hanyalah HARAPAN. Jangan sampai kita kehilangan HARAPAN.
-----
Begitu selesai bicara, tiupan angin memadamkannya.
Dengan sedih giliran lilin ketiga bicara: ”Aku adalah Cinta.”
“Tak mampu lagi aku untuk tetap menyala. Manusia tidak lagi memandang dan mengganggapku berguna. Mereka saling membenci. Bahkan membenci mereka yang mencintainya, membenci keluarganya.”
Tanpa menunggu waktu lama, maka matilah lilin ketiga.
Tanpa terduga…
Seorang anak saat itu masuk ke dalam kamar, dan melihat ketiga lilin telah padam.
Karena takut akan kegelapan itu, ia berkata: “Eh apa yang terjadi?? Kalian harus tetap menyala. Aku takut akan kegelapan!”
Lalu ia mengangis tersedu-sedu.
Lalu dengan terharu lilin keempat berkata:
"Jangan takut. Janganlah menangis. Selama aku masih ada dan menyala, kita tetap dapat selalu menyalakan ketiga lilin lainnya."
”Akulah HARAPAN.“
Dengan mata bersinar, sang anak mengambil Lilin Harapan, lalu menyalakan kembali ketiga lilin lainnya.
Apa yang tidak pernah mati hanyalah HARAPAN. Jangan sampai kita kehilangan HARAPAN.
-----
Rabu, 05 September 2012
"Ibu itu adalah pembohong" ( Renungan )
"Ibu itu adalah pembohong"
( Renungan )
Seorang ibu dalam hidupnya membuat kebohongan.
1. Saat makan, jika makanan kurang, Ia akan memberikan makanan itu kepada anaknya dan berkata, "Cepatlah makan, ibu tidak lapar".
( Renungan )
Seorang ibu dalam hidupnya membuat kebohongan.
1. Saat makan, jika makanan kurang, Ia akan memberikan makanan itu kepada anaknya dan berkata, "Cepatlah makan, ibu tidak lapar".
2. Waktu makan, Ia selalu menyisihkan ikan dan daging untuk anaknya dan berkata, "ibu tidak suka daging, makanlah, nak.."
3. Tengah malam saat dia sedang menjaga anaknya yang sakit, Ia berkata,
"Istirahatlah nak, ibu masih belum ngantuk.."
4. Saat anak sudah tamat sekolah, bekerja, mengirimkan uang untuk ibu. Ia berkata, "Simpanlah untuk keperluanmu nak, ibu masih punya uang."
5. Saat anak sudah sukses, menjemput ibunya untuk tinggal di rumah besar, Ia lantas berkata,"Rumah tua kita sangat nyaman, ibu tidak terbiasa tinggal di sana."
Saat menjelang tua, ibu sakit keras, anaknya akan menangis, tetapi ibu masih bisa tersenyum sambil berkata, "Jangan menangis, ibu tidak apa apa."
Ini adalah kebohongan terakhir yg dibuat ibu.
Tidak peduli seberapa kaya kita, seberapa dewasanya kita, ibu selalu menganggap kita anak kecilnya, mengkhawatirkan diri kita tapi tidak pernah membiarkan kita mengkhawatirkan dirinya.
Semoga semua anak di dunia ini bisa menghargai setiap kebohongan seorang ibu....karena beliaulah malaikat nyata yang dikirim TUHAN untuk menjaga kita (Love U Mom)
Selasa, 04 September 2012
DITEMUKANNYA ARLOJI YANG HILANG
Seorang tukang kayu. Suatu saat ketika sedang
bekerja, secara tidak sengaja arlojinya terjatuh dan terbenam di antara
tingginya tumpukan serbuk kayu. Arloji itu adalah sebuah hadiah dan
telah dipakainya cukup lama. Ia amat mencintai arloji tersebut.
Karenanya ia berusaha sedapat mungkin untuk menemukan kembali arlojinya.
Sambil mengeluh mempersalahkan keteledoran d
iri
sendiri si tukang kayu itu membongkar tumpukan serbuk yang tinggi itu.
Teman-teman karyawan yang lain juga turut membantu mencarinya. Namun
sia-sia saja. Arloji kesayangan itu tetap tak ditemukan.
Tibalah saat makan siang. Para pekerja serta pemilik arloji tersebut dengan semangat yang lesu meninggalkan bengkel kayu tersebut. Saat itu seorang anak yang sejak tadi memperhatikan mereka mencari arloji itu, datang mendekati tumpukan serbuk kayu tersebut. Ia menjongkok dan mencari. Tak berapa lama berselang ia telah menemukan kembali arloji kesayangan si tukang kayu tersebut. Tentu si tukang kayu itu amat gembira. Namun ia juga heran, karena sebelumnya banyak orang telah membongkar tumpukan serbuk namun sia-sia. Kini hanya dia seorang diri saja, dan berhasil menemukan arloji itu.
'Bagaimana caranya engkau mencari arloji ini?' Tanya si tukang kayu.
'Saya hanya duduk secara tenang di lantai. Dalam keheningan itu saya bisa mendengar bunyi to-tak, tok-tak.'
'Dengan itu saya tahu di mana arloji itu berada' Anak itu menjawab.
***
Sahabatku, tahukah engkau bahwa problema/masalah yang kita hadapi akan berkurang seperempat hanya dengan membiarkan diri duduk secara tenang?
Keheningan adalah pekerjaan rumah yang paling sulit diselesaikan selama hidup. Sering secara tidak sadar kita terjerumus dalam seribu satu macam 'kegaduhan'.
Tibalah saat makan siang. Para pekerja serta pemilik arloji tersebut dengan semangat yang lesu meninggalkan bengkel kayu tersebut. Saat itu seorang anak yang sejak tadi memperhatikan mereka mencari arloji itu, datang mendekati tumpukan serbuk kayu tersebut. Ia menjongkok dan mencari. Tak berapa lama berselang ia telah menemukan kembali arloji kesayangan si tukang kayu tersebut. Tentu si tukang kayu itu amat gembira. Namun ia juga heran, karena sebelumnya banyak orang telah membongkar tumpukan serbuk namun sia-sia. Kini hanya dia seorang diri saja, dan berhasil menemukan arloji itu.
'Bagaimana caranya engkau mencari arloji ini?' Tanya si tukang kayu.
'Saya hanya duduk secara tenang di lantai. Dalam keheningan itu saya bisa mendengar bunyi to-tak, tok-tak.'
'Dengan itu saya tahu di mana arloji itu berada' Anak itu menjawab.
***
Sahabatku, tahukah engkau bahwa problema/masalah yang kita hadapi akan berkurang seperempat hanya dengan membiarkan diri duduk secara tenang?
Keheningan adalah pekerjaan rumah yang paling sulit diselesaikan selama hidup. Sering secara tidak sadar kita terjerumus dalam seribu satu macam 'kegaduhan'.
JEJAK KAKI YANG BERMAKNA
Alkisah, ada sepasang suami istri yang sangat
mengharapkan kehadiran momongan. Setelah melalui berbagai macam usaha
dan waktu yang lama, akhirnya mereka dikarunia seorang putera yang
berparas tampan. Sayangnya, si anak menderita kelainan bawaan yakni
penyusutan otot sehingga berdampak pada kaki yang lemah yang tidak cukup
kuat untuk menopang tubuh yang bertumbuh.
Kata do
Kata do
kter,
"Bapak, ibu. Tidak ada cara lain untuk membuat putera Anda kelak bisa
berdiri dan berjalan sendiri, yaitu dengan membiarkan dia berjalan dan
melakukan segala sesuatunya sendiri. Anda berdua harus tega demi masa
depannya. Itu satu-satunya jalan jika kelak ingin melihatnya bisa
berjalan sendiri". Sejak saat itu, dengan penuh sayang dan hati yang
pedih, mereka setiap hari harus melihat putera kesayangan bersusah payah
belajar berjalan, terjatuh, sakit, kadang terluka hingga menangis dan
kemudian harus mulai bangkit dan berjalan lagi. Begitu seterusnya.
Suatu hari, saat si anak berusia 9 tahun, terjadi peristiwa yang cukup tragis. Hari itu, udara begitu dingin, salju turun dengan cukup lebat. Jarak dari rumah ke sekolah kira-kira 1 kilometer. Saat sekolah usai, si anak sangat berharap orang tuanya akan datang menjemput dan membantunya berjalan pulang. Ditunggu-tunggu dengan cemas, hingga sekolah sepi, orangtuanya tak kunjung tiba. Hati anak itu pun dipenuhi dengan kekecewaan, kemarahan dan kebencian.
"Papa Mama kejam. Jahat. Tidak sayang padaku. Membiarkan aku menderita. Aku benci mereka!" sambil mengertakkan gigi, dia pun berjalan pulang dengan langkah terseok-seok. Jalanan tertutup oleh salju dan itu sangat menyulitkan untuk mengatur langkah kakinya yang lemah. Setapak demi setapak. Berkali-kali dia jatuh, kesakitan, memar dan bahkan berdarah. Setiap kali terjatuh, hatinya semakin sakit dan kebencian kepada orang tuanya makin membara. Tekad di dadanya bulat untuk membenci orangtuanya seumur hidup.
Akhirnya... si anak tiba di depan rumah. Saat pintu dibukakan, ayah dan ibunya segera memeluk sambil menangis. "Anakku, kamu hebat sekali! Kami tahu kamu sangat menderita, kami melihat dari jauh setiap langkah dan kejatuhanmu, maafkan ayah dan ibu yang tidak membantumu. Tapi lihatlah ke belakang... bekas tapak kakimu di atas salju... dan itu adalah tapak kakimu sendiri, Nak. Kamu sendiri, berhasil melalui perjalanan sulit hari ini.
Ingat Nak, hari-harimu ke depan masih panjang dan tidak mudah, tetapi dengan kemampuanmu hari ini, papa mama yakin dan percaya, kamu akan bisa melaluinya, dengan percaya diri dan tanpa perlu bertopang kepada orang lain". Si anak pun segera larut dalam tangis bahagia. Karena ternyata orang tuanya bukannya tidak menyayangi tetapi mereka menunjukkan kasih sayang dengan membiarkan berjalan sendiri menyongsong masa depan yang akan dilaluinya nanti.
Netter yang luar biasa,
Kita sebagai orangtua, ketika anak mengalami kesulitan, cobalah untuk membiarkan mereka berdiri dan menemukan solusi. Biarkan mereka belajar dan berusaha. Justru keberanian untuk menanggung setiap kesulitan yang dihadapilah yang akan menjadikan anak kita sebagai pribadi yang tangguh, mantap, percaya diri, dan bertanggung jawab. Hingga kelak, tanpa kita, mereka akan bertumbuh sebagai manusia yang kuat dalam menghadapi problem yang muncul dan bisa menjadi pemenang dalam mengarungi lautan kehidupan ini.
Salam sukses, luar biasa!
-----
Suatu hari, saat si anak berusia 9 tahun, terjadi peristiwa yang cukup tragis. Hari itu, udara begitu dingin, salju turun dengan cukup lebat. Jarak dari rumah ke sekolah kira-kira 1 kilometer. Saat sekolah usai, si anak sangat berharap orang tuanya akan datang menjemput dan membantunya berjalan pulang. Ditunggu-tunggu dengan cemas, hingga sekolah sepi, orangtuanya tak kunjung tiba. Hati anak itu pun dipenuhi dengan kekecewaan, kemarahan dan kebencian.
"Papa Mama kejam. Jahat. Tidak sayang padaku. Membiarkan aku menderita. Aku benci mereka!" sambil mengertakkan gigi, dia pun berjalan pulang dengan langkah terseok-seok. Jalanan tertutup oleh salju dan itu sangat menyulitkan untuk mengatur langkah kakinya yang lemah. Setapak demi setapak. Berkali-kali dia jatuh, kesakitan, memar dan bahkan berdarah. Setiap kali terjatuh, hatinya semakin sakit dan kebencian kepada orang tuanya makin membara. Tekad di dadanya bulat untuk membenci orangtuanya seumur hidup.
Akhirnya... si anak tiba di depan rumah. Saat pintu dibukakan, ayah dan ibunya segera memeluk sambil menangis. "Anakku, kamu hebat sekali! Kami tahu kamu sangat menderita, kami melihat dari jauh setiap langkah dan kejatuhanmu, maafkan ayah dan ibu yang tidak membantumu. Tapi lihatlah ke belakang... bekas tapak kakimu di atas salju... dan itu adalah tapak kakimu sendiri, Nak. Kamu sendiri, berhasil melalui perjalanan sulit hari ini.
Ingat Nak, hari-harimu ke depan masih panjang dan tidak mudah, tetapi dengan kemampuanmu hari ini, papa mama yakin dan percaya, kamu akan bisa melaluinya, dengan percaya diri dan tanpa perlu bertopang kepada orang lain". Si anak pun segera larut dalam tangis bahagia. Karena ternyata orang tuanya bukannya tidak menyayangi tetapi mereka menunjukkan kasih sayang dengan membiarkan berjalan sendiri menyongsong masa depan yang akan dilaluinya nanti.
Netter yang luar biasa,
Kita sebagai orangtua, ketika anak mengalami kesulitan, cobalah untuk membiarkan mereka berdiri dan menemukan solusi. Biarkan mereka belajar dan berusaha. Justru keberanian untuk menanggung setiap kesulitan yang dihadapilah yang akan menjadikan anak kita sebagai pribadi yang tangguh, mantap, percaya diri, dan bertanggung jawab. Hingga kelak, tanpa kita, mereka akan bertumbuh sebagai manusia yang kuat dalam menghadapi problem yang muncul dan bisa menjadi pemenang dalam mengarungi lautan kehidupan ini.
Salam sukses, luar biasa!
-----
Surat Cinta Kepada Anak
JANGAN ABAIKAN, TOLONG DI BACA:
Surat Cinta Kepada Anak
Anakku,
Ketika aku mulai tua, aku tidak lagi seperti dulu.
Tolong mengertilah, dan cobalah untuk bersabar terhadapku.
Ketika aku menumpahkan sup di pakaianku,
ketika aku lupa cara mengikat tali sepatu,
tolong ingatlah, bagaimana dulu aku mengajari kamu dengan memegang tanganmu.
Ketika aku berkata sesuatu berulang kali sampai kamu malas mendengarnya,
bersabarlah untuk mendengarkannya. Jangan potong pembicaraanku.
Ingatkah di saat kamu kecil, aku mesti mengulangi cerita sampai berapa kali sehingga kamu bisa tertidur pulas.
Ketika aku meminta kamu untuk memandikanku, tolong jangan salahkan aku.
Masih ingatkah ketika kamu kecil, aku mesti mencari cara membujukmu untuk mandi.
Ketika aku tidak mengerti tentang perkembangan teknologi dan masalah baru,
janganlah menertawakan aku.
Cobalah ingat dulu betapa aku sabar menjawab semua pertanyaan "mengapa" dari kamu.
Ketika aku sulit berjalan karena kaki terasa lelah, tolong ulurkan tanganmu yang kuat itu untuk memapahku.
Seperti waktu kamu kecil, aku mengajarimu berjalan.
Ketika aku lupa akan topik yang sedang kita bicarakan,
berikan aku beberapa waktu, untuk aku mengingat kembali.
Sebenarnya bagiku, masalah topik itu tidaklah penting.
Asalkan kamu mau bersabar mendengarkanku, bagiku itu sudah cukup.
Ketika kamu melihat aku makin menua, janganlah bersedih.
Mengertilah, dan dukunglah aku.
Seperti yang aku lakukan ketika kamu baru memulai perjalanan hidup di dunia ini.
Saat itu, aku yang menuntun kamu untuk berjalan di kehidupan ini.
Dan sekarang, temanilah diriku untuk melanjutkan perjalanan terakhirku ini.
Berikan kasih sayang dan kesabaranmu.
Aku akan penuh syukur dan tersenyum.
Dan senyuman ini berisi kasih tak terhingga dari diriku untukmu.
Surat Cinta Kepada Anak
Anakku,
Ketika aku mulai tua, aku tidak lagi seperti dulu.
Tolong mengertilah, dan cobalah untuk bersabar terhadapku.
Ketika aku menumpahkan sup di pakaianku,
ketika aku lupa cara mengikat tali sepatu,
tolong ingatlah, bagaimana dulu aku mengajari kamu dengan memegang tanganmu.
Ketika aku berkata sesuatu berulang kali sampai kamu malas mendengarnya,
bersabarlah untuk mendengarkannya. Jangan potong pembicaraanku.
Ingatkah di saat kamu kecil, aku mesti mengulangi cerita sampai berapa kali sehingga kamu bisa tertidur pulas.
Ketika aku meminta kamu untuk memandikanku, tolong jangan salahkan aku.
Masih ingatkah ketika kamu kecil, aku mesti mencari cara membujukmu untuk mandi.
Ketika aku tidak mengerti tentang perkembangan teknologi dan masalah baru,
janganlah menertawakan aku.
Cobalah ingat dulu betapa aku sabar menjawab semua pertanyaan "mengapa" dari kamu.
Ketika aku sulit berjalan karena kaki terasa lelah, tolong ulurkan tanganmu yang kuat itu untuk memapahku.
Seperti waktu kamu kecil, aku mengajarimu berjalan.
Ketika aku lupa akan topik yang sedang kita bicarakan,
berikan aku beberapa waktu, untuk aku mengingat kembali.
Sebenarnya bagiku, masalah topik itu tidaklah penting.
Asalkan kamu mau bersabar mendengarkanku, bagiku itu sudah cukup.
Ketika kamu melihat aku makin menua, janganlah bersedih.
Mengertilah, dan dukunglah aku.
Seperti yang aku lakukan ketika kamu baru memulai perjalanan hidup di dunia ini.
Saat itu, aku yang menuntun kamu untuk berjalan di kehidupan ini.
Dan sekarang, temanilah diriku untuk melanjutkan perjalanan terakhirku ini.
Berikan kasih sayang dan kesabaranmu.
Aku akan penuh syukur dan tersenyum.
Dan senyuman ini berisi kasih tak terhingga dari diriku untukmu.
Imp0sible is n0thing'in y0ur dream .
Menanti Sukses
Ada seorang pemuda yang pergi ke pantai setiap hari dan duduk di tepi dermaga sambil memandangi lautan. Suatu hari, seorang pria tua menghampirinya dan bertanya, "Kau sedang lihat apa?"
"Lihat perahu di sana?" jawab pemuda itu, "Saya menunggu perahu itu mendekat."
"Apa yang istimewa dari perahu itu?" si pria tua bertanya lagi.
"Memang Bapak tak bisa lihat sebutannya?" tanya si p
Ada seorang pemuda yang pergi ke pantai setiap hari dan duduk di tepi dermaga sambil memandangi lautan. Suatu hari, seorang pria tua menghampirinya dan bertanya, "Kau sedang lihat apa?"
"Lihat perahu di sana?" jawab pemuda itu, "Saya menunggu perahu itu mendekat."
"Apa yang istimewa dari perahu itu?" si pria tua bertanya lagi.
"Memang Bapak tak bisa lihat sebutannya?" tanya si p
emuda. Pria tua itu memicingkan matanya dan menggeleng. "Tidak, aku tak bisa membacanya."
"Namanya Sukses."
Si pria tua itu memutar bola matanya. "Jadi, maksudmu kau datang ke sini setiap hari untuk menunggu sukses menghampirimu?"
"Benar," ujar si pemuda dengan pandangan menerawang.
"Kau itu cuma bermimpi! Kau harus berusaha menjemput Sukses, bukan malah menunggunya mendatangimu!"
Si pemuda hanya mengangkat bahu dan menggerutu sendirian, sementara si pria tua melangkah pergi.
Esok paginya, kedua orang itu bertemu lagi di dermaga. Si pria tua itu mengganti pakaiannya dengan baju renang. Lalu ketika bersiap-siap melompat ke dalam air, si pemuda menarik lengannya. "Mau apa Bapak?" tanya pemuda itu.
"Aku mau menjemput Sukses. Mau ikut juga?"
"Bapak gila, ya, nanti bisa tenggelam!"
"Lebih baik tenggelam di saat berjuang mencapai Sukses, daripada cuma duduk di pantai menanti sia-sia sukses itu datang padaku!" Sesaat berikutnya, si pria tua langsung menceburkan diri ke dalam danau.
Analogi di atas menggambarkan betapa banyak di antara kita lebih memilih untuk menunggu sukses atau peluang sukses daripada memberanikan diri untuk bertindak nyata. Karena sering kali take action identik dengan risiko. Bagaimana kalau kita "tenggelam" (baca: gagal)? Begitulah pemikiran kita. Tapi bukankah take action jauh lebih baik daripada sekadar duduk diam menunggu sukses itu menghampiri kita? Meski akhirnya kita belum berhasil meraih cita-cita, setidaknya kita sudah berusaha dan tentu kita akan mendapat suatu pelajaran penting dari situ untuk bekal kita di langkah berikutnya.
Nah kalau begitu, yang manakah kita, si pemuda atau si orang tua?
"Namanya Sukses."
Si pria tua itu memutar bola matanya. "Jadi, maksudmu kau datang ke sini setiap hari untuk menunggu sukses menghampirimu?"
"Benar," ujar si pemuda dengan pandangan menerawang.
"Kau itu cuma bermimpi! Kau harus berusaha menjemput Sukses, bukan malah menunggunya mendatangimu!"
Si pemuda hanya mengangkat bahu dan menggerutu sendirian, sementara si pria tua melangkah pergi.
Esok paginya, kedua orang itu bertemu lagi di dermaga. Si pria tua itu mengganti pakaiannya dengan baju renang. Lalu ketika bersiap-siap melompat ke dalam air, si pemuda menarik lengannya. "Mau apa Bapak?" tanya pemuda itu.
"Aku mau menjemput Sukses. Mau ikut juga?"
"Bapak gila, ya, nanti bisa tenggelam!"
"Lebih baik tenggelam di saat berjuang mencapai Sukses, daripada cuma duduk di pantai menanti sia-sia sukses itu datang padaku!" Sesaat berikutnya, si pria tua langsung menceburkan diri ke dalam danau.
Analogi di atas menggambarkan betapa banyak di antara kita lebih memilih untuk menunggu sukses atau peluang sukses daripada memberanikan diri untuk bertindak nyata. Karena sering kali take action identik dengan risiko. Bagaimana kalau kita "tenggelam" (baca: gagal)? Begitulah pemikiran kita. Tapi bukankah take action jauh lebih baik daripada sekadar duduk diam menunggu sukses itu menghampiri kita? Meski akhirnya kita belum berhasil meraih cita-cita, setidaknya kita sudah berusaha dan tentu kita akan mendapat suatu pelajaran penting dari situ untuk bekal kita di langkah berikutnya.
Nah kalau begitu, yang manakah kita, si pemuda atau si orang tua?
Senin, 03 September 2012
kisah nyata {dibaca ya }
Kisah Nyata : DUHAI BUNDA, .. HATI - HATI DENGAN AMARAHMU!
Cerita ini saya olah dari curhat sahabat saya beberapa hari lalu dalam sebuah forum. Jujur, saya merinding mendengarnya. Benar-benar mengingatkan kembali arti seorang ibu.
Ibu, sosok yang disebut tiga kali oleh Rasulullah untuk dihormati sebelum ayah. Maka doa ibu pun begitu dahsyat. Begitu pula amarahnya, sehingga kita pun sangat famili
Cerita ini saya olah dari curhat sahabat saya beberapa hari lalu dalam sebuah forum. Jujur, saya merinding mendengarnya. Benar-benar mengingatkan kembali arti seorang ibu.
Ibu, sosok yang disebut tiga kali oleh Rasulullah untuk dihormati sebelum ayah. Maka doa ibu pun begitu dahsyat. Begitu pula amarahnya, sehingga kita pun sangat famili
ar
dengan legenda Malin Kundang. Semoga bermanfaat buat para orangtua,
khusus para ibu, dan calon ibu ... inilah kisahnya, selamat membaca.
Sore itu aku baru pulang dari bekerja. Badan dan pikiran yang lelah karena persoalan menumpuk di tempat kerja, membuat kondisi emosiku agak labil.
Sampai di rumah aku berharap tak mendapati hal yang membuat emosiku makin naik. Memiliki tiga
anak yang sangat aktif sering kali membuat emosiku naik turun.
Keinginanku untuk mendapat ketenangan sejenak di rumah tak terkabul. Sore itu sesampai di rumah,
ketiga anakku belum mandi dan rumah berantakan. Meski memiliki khadimat, tapi khadimatku masih
terlalu muda, sehingga banyak pekerjaan yang tak tertangani dengan baik olehnya.
Sulungku yang berusia 6 tahun asyik dengan game. Putri keduaku dan si bungsu asyik bermain, berlari ke sana kemari. Emosiku mulai kembali naik.
”Ummi, Haris dari tadi disuruh mandi nggak mau ...” lapor khadimatku.
Haris masih asyik bermain game.
“Haris, mandi …” kataku berusaha lembut.
”Nggak mau ah!”
”Haris, mandi sama Mbak sekarang ...” suaraku mulai keras.
Haris tak bergeming.
Rasa lelah, pikiran yang masih penuh, ditambah khadimat yang tak becus dan si Sulung yang tak mau menuruti perintahku, makin menambah emosi di dada.
”Haris, mandi sekarang juga!” kali ini aku benar - benar tak bisa mengontrol ucapanku. Kurasa suaraku begitu keras.
Haris tampak kaget. Tapi hanya sejenak. Kemudian dari mulut mungilnya kudengar kata ... ”Entar,
Bego ...”
Hooh, rasanya emosiku sudah tak di dada lagi, tapi sudah naik hingga ubun-ubun. Dari mana dia mendapat perkataan itu? Bagaimana mungkin
Haris-ku bisa berkata seperti itu pada ibunya...?
Kupegang kedua bahunya, masih dengan amarah di dada. ”Bicara apa kamu? Dari mana dapat omongan itu? Dengar ya, UMMI NGGAK IKHLAS
kamu bicara seperti itu. Ummi nggak ikhlas! Sekarang juga kamu minta maaf!”
Rasanya lisanku sudah tak terkontrol. Kulihat Haris tampak diam dan takut.
”Ayo, minta maaf sama Ummi!”
”Ma-af, Mi ...” dengan terbata Haris berucap.
”Ya sudah, Ummi maafkan. Sekarang kamu mandi sama Mbak!” kataku. Ucapan ”Ummi maafkan” sepertinya hanya sekadar saja keluar dari mulutku. Amarah dan kecewa anakku mengucapkan kalimat ”Entar, Bego ...” masih menggumpal di dadaku.
*****
Keesokan harinya, amarahku sudah terkikis. Sore hari aku mengecek pelajaran Haris. aku ingat esok hari Haris ada tugas mengulang mengulang
hafalan.
”Ah, surat-surat yang mesti diulang hampir semua sudah Haris hafal. Insya Allah, Haris bisa,” kataku yakin.
Setelah itu aku membantu Haris untuk mengulang hafalan.
”Ayo, baca bismillah dulu, Ris ...”
”Bis ...” suara Haris terputus.
”Lho kok, bis ... bis-millah ...”
”Bis ...” lagi-lagi suara Haris terputus.
”Haris ... jangan bercanda. Ayat Al - Quran jangan dipermainkan. Ayo ulang lagi, bismillah ...”
”Bis ...”
”Haris!” emosiku mulai naik.
”Tapi, Mi ... Haris nggak bisa ...”
”Masak bismillah saja tidak bisa, bis-mi-Allah ...”
Haris mencoba mengulang, tapi lagi-lagi terhenti di kata ”bis”. Aku benar-benar tak habis pikir.
”Haris! Ummi serius ini. Kamu jangan bercanda, mempermainkan ayat Al Quran! Coba, A-L-L-A-H ...”
”A .... A ... Ummi haris nggak bisa ...”
”A-L-L-A-H .... ulang lagi ... A-L-L-A-H … BISMILLAH …”
“A …. A …”
Aku mulai panik. Kuamati wajah Haris.
Dia tak terlihat bercanda atau mempermainkanku.
“Istighfar dulu, Ris, As-tag-fi-ru-llah …”
”Astagfiru ...” lagi-lagi suara Haris terputus.
Aku semakin panik. Ada apa dengan anakku? Padahal dia sudah hafal setengah juz 30. Bagaimana mungkin menyebut ”bismillah”, ”Astagfirullah,” bahkan ”Allah” saja tak bisa ...?
Aku berusaha menenangkan diri. ”Yuk, bareng Ummi ... kita istighfar ...”
”Astagfirullah...”
Namun lagi-lagi, Haris tak dapat menyelesaikan kalimat tersebut.
Aku benar-benar tak habis pikir. Beberapa kali kuminta Haris mengulang kata Allah, Allah, Allah ...
tak juga bisa.
Tiba-tiba runtunan kejadian kemarin berkelebat di otakku. ”Astagfirullah ....” kuucap berulang kali .... Kalimat ”ummi tidak ikhlas” terngiang-ngiang.
Inikah yang menyebabkan Haris tak dapat menyebut kata Allah? Tapi bagaimana mungkin? Haris masih kecil, baru 6 tahun ...
Namun, tak ada yang tak mungkin bagi Allah untuk menunjukkan kuasa-Nya. Langsung kupeluk Haris, air mata berbulir jatuh.
”Maafkan Ummi, ya, Ris ... maafkan, Ummi. Ummi juga memaafkan semua kekhilafan Haris. Ummi maafkan kesalahan Haris ...” Kupeluk Haris makin erat. Haris tampak tak mengerti. Air mataku menderas. ”Maafkan Ummi ... dan Ummi maafkan
Haris ...”
Setelah beberapa saat menenangkan diri, aku minta Haris untuk sama - sama membaca istighfar kembali. Dan ... subhanallah ... tanpa kesulitan Haris mengucap dengan lancar. Dan kemudian kalimat bismillah, dan kemudian surat-surat Al - Quran yang hendak ia ulang, semua lancar dibaca.
Subhanallah, Allahu Akbar ... betapa kecil kurasa diriku saat itu. Teringat aku kisah Al Qomah pada masa Rasulullah, yang mulutnya terkunci tak dapat mengucap ”Laailahailallah” saat sakaratul maut, karena sang Ibu tak ikhlas padanya.
Aku bersimpuh .... Ampuni aku, ya Allah ....
---------- () ----------
Sumber : "Manusia Berjiwa Besar"
Wallahua’lam bish Shawwab ....
Barakallahufikum ....
Salam Terkasih ..
Dari Sahabat Untuk Sahabat ...
Semoga tulisan ini dapat membuka pintu hati kita yang telah lama terkunci ...
~ o ~
Sore itu aku baru pulang dari bekerja. Badan dan pikiran yang lelah karena persoalan menumpuk di tempat kerja, membuat kondisi emosiku agak labil.
Sampai di rumah aku berharap tak mendapati hal yang membuat emosiku makin naik. Memiliki tiga
anak yang sangat aktif sering kali membuat emosiku naik turun.
Keinginanku untuk mendapat ketenangan sejenak di rumah tak terkabul. Sore itu sesampai di rumah,
ketiga anakku belum mandi dan rumah berantakan. Meski memiliki khadimat, tapi khadimatku masih
terlalu muda, sehingga banyak pekerjaan yang tak tertangani dengan baik olehnya.
Sulungku yang berusia 6 tahun asyik dengan game. Putri keduaku dan si bungsu asyik bermain, berlari ke sana kemari. Emosiku mulai kembali naik.
”Ummi, Haris dari tadi disuruh mandi nggak mau ...” lapor khadimatku.
Haris masih asyik bermain game.
“Haris, mandi …” kataku berusaha lembut.
”Nggak mau ah!”
”Haris, mandi sama Mbak sekarang ...” suaraku mulai keras.
Haris tak bergeming.
Rasa lelah, pikiran yang masih penuh, ditambah khadimat yang tak becus dan si Sulung yang tak mau menuruti perintahku, makin menambah emosi di dada.
”Haris, mandi sekarang juga!” kali ini aku benar - benar tak bisa mengontrol ucapanku. Kurasa suaraku begitu keras.
Haris tampak kaget. Tapi hanya sejenak. Kemudian dari mulut mungilnya kudengar kata ... ”Entar,
Bego ...”
Hooh, rasanya emosiku sudah tak di dada lagi, tapi sudah naik hingga ubun-ubun. Dari mana dia mendapat perkataan itu? Bagaimana mungkin
Haris-ku bisa berkata seperti itu pada ibunya...?
Kupegang kedua bahunya, masih dengan amarah di dada. ”Bicara apa kamu? Dari mana dapat omongan itu? Dengar ya, UMMI NGGAK IKHLAS
kamu bicara seperti itu. Ummi nggak ikhlas! Sekarang juga kamu minta maaf!”
Rasanya lisanku sudah tak terkontrol. Kulihat Haris tampak diam dan takut.
”Ayo, minta maaf sama Ummi!”
”Ma-af, Mi ...” dengan terbata Haris berucap.
”Ya sudah, Ummi maafkan. Sekarang kamu mandi sama Mbak!” kataku. Ucapan ”Ummi maafkan” sepertinya hanya sekadar saja keluar dari mulutku. Amarah dan kecewa anakku mengucapkan kalimat ”Entar, Bego ...” masih menggumpal di dadaku.
*****
Keesokan harinya, amarahku sudah terkikis. Sore hari aku mengecek pelajaran Haris. aku ingat esok hari Haris ada tugas mengulang mengulang
hafalan.
”Ah, surat-surat yang mesti diulang hampir semua sudah Haris hafal. Insya Allah, Haris bisa,” kataku yakin.
Setelah itu aku membantu Haris untuk mengulang hafalan.
”Ayo, baca bismillah dulu, Ris ...”
”Bis ...” suara Haris terputus.
”Lho kok, bis ... bis-millah ...”
”Bis ...” lagi-lagi suara Haris terputus.
”Haris ... jangan bercanda. Ayat Al - Quran jangan dipermainkan. Ayo ulang lagi, bismillah ...”
”Bis ...”
”Haris!” emosiku mulai naik.
”Tapi, Mi ... Haris nggak bisa ...”
”Masak bismillah saja tidak bisa, bis-mi-Allah ...”
Haris mencoba mengulang, tapi lagi-lagi terhenti di kata ”bis”. Aku benar-benar tak habis pikir.
”Haris! Ummi serius ini. Kamu jangan bercanda, mempermainkan ayat Al Quran! Coba, A-L-L-A-H ...”
”A .... A ... Ummi haris nggak bisa ...”
”A-L-L-A-H .... ulang lagi ... A-L-L-A-H … BISMILLAH …”
“A …. A …”
Aku mulai panik. Kuamati wajah Haris.
Dia tak terlihat bercanda atau mempermainkanku.
“Istighfar dulu, Ris, As-tag-fi-ru-llah …”
”Astagfiru ...” lagi-lagi suara Haris terputus.
Aku semakin panik. Ada apa dengan anakku? Padahal dia sudah hafal setengah juz 30. Bagaimana mungkin menyebut ”bismillah”, ”Astagfirullah,” bahkan ”Allah” saja tak bisa ...?
Aku berusaha menenangkan diri. ”Yuk, bareng Ummi ... kita istighfar ...”
”Astagfirullah...”
Namun lagi-lagi, Haris tak dapat menyelesaikan kalimat tersebut.
Aku benar-benar tak habis pikir. Beberapa kali kuminta Haris mengulang kata Allah, Allah, Allah ...
tak juga bisa.
Tiba-tiba runtunan kejadian kemarin berkelebat di otakku. ”Astagfirullah ....” kuucap berulang kali .... Kalimat ”ummi tidak ikhlas” terngiang-ngiang.
Inikah yang menyebabkan Haris tak dapat menyebut kata Allah? Tapi bagaimana mungkin? Haris masih kecil, baru 6 tahun ...
Namun, tak ada yang tak mungkin bagi Allah untuk menunjukkan kuasa-Nya. Langsung kupeluk Haris, air mata berbulir jatuh.
”Maafkan Ummi, ya, Ris ... maafkan, Ummi. Ummi juga memaafkan semua kekhilafan Haris. Ummi maafkan kesalahan Haris ...” Kupeluk Haris makin erat. Haris tampak tak mengerti. Air mataku menderas. ”Maafkan Ummi ... dan Ummi maafkan
Haris ...”
Setelah beberapa saat menenangkan diri, aku minta Haris untuk sama - sama membaca istighfar kembali. Dan ... subhanallah ... tanpa kesulitan Haris mengucap dengan lancar. Dan kemudian kalimat bismillah, dan kemudian surat-surat Al - Quran yang hendak ia ulang, semua lancar dibaca.
Subhanallah, Allahu Akbar ... betapa kecil kurasa diriku saat itu. Teringat aku kisah Al Qomah pada masa Rasulullah, yang mulutnya terkunci tak dapat mengucap ”Laailahailallah” saat sakaratul maut, karena sang Ibu tak ikhlas padanya.
Aku bersimpuh .... Ampuni aku, ya Allah ....
---------- () ----------
Sumber : "Manusia Berjiwa Besar"
Wallahua’lam bish Shawwab ....
Barakallahufikum ....
Salam Terkasih ..
Dari Sahabat Untuk Sahabat ...
Semoga tulisan ini dapat membuka pintu hati kita yang telah lama terkunci ...
~ o ~
_MERENUNG SEJENAK GAN_
Sepasang kekasih sedang melaju lebih dari 100 km/jam di jalan dengan sebuah motor.
...
Cewek : Pelan-pelan, aku takut.
Cowok : Tidak, ini menyenangkan.
...
Cewek : Pelan-pelan, aku takut.
Cowok : Tidak, ini menyenangkan.
Cewek : Tidak, ini sama sekali tidak menyenangkan. Please, aku takut!
Cowok : Baik, tapi katakan dulu bahwa kamu mencintaiku.
Cewek : Aku mencintaimu! Sekarang pelankan motornya!
Cowok : Sekarang beri aku pelukan yang erat.
(Lalu si cewek memeluknya)
Cowok : Bisakah kamu melepas helmku & kamu pakai? Helm ini sangat menggangguku!
(Si cewek itu pun menurutinya)
Keesokan harinya ada berita di koran sebuah sepeda motor menabrak gedung karena rem-nya blong.
Ada dua orang di atas motor itu, tetapi hanya satu orang yang selamat.
Yang terjadi sebenarnya adalah bahwa di tengah jalan saat kecepatan tinggi, si cowok berusaha me-Rem utk memperlambat, tp si cowok menyadari bahwa rem motornya rusak, tapi dia tidak ingin membiarkan kekasihnya tau.
Dia meminta kekasihnya berkata dia mencintainya & merasakan pelukannya, karena dia tau itu untuk terakhir kali baginya.
Dia lalu menyuruhnya memakai helm supaya kekasihnya akan tetap hidup walaupun itu berarti ia yang akan mati...
Pernahkah kamu mencintai seseorang sampai sebesar ini ???
Ataukah hanya sebatas memperhatikannya, peduli, menelpon / mengirimkannya sms hanya untuk membuatnya bahagia?
Pernahkah kamu mengatakan "AKU MENCINTAIMU" padanya?
Ataukah kamu menunggu untuk mengatakan itu disaat kamu berada dlm situasi seperti diatas motor itu?
Jika tidak, kamu masih punya kesempatan untuk mencintainya lebih lagi.
Jangan menyimpan rasa cinta itu hanya di dalam hati. Katakan padanya bahwa kau mencintainya
Karena kamu tidak pernah tau, apakah besok kamu masih punya waktu dan kesempatan untuk mengungkapkannya..
Cowok : Baik, tapi katakan dulu bahwa kamu mencintaiku.
Cewek : Aku mencintaimu! Sekarang pelankan motornya!
Cowok : Sekarang beri aku pelukan yang erat.
(Lalu si cewek memeluknya)
Cowok : Bisakah kamu melepas helmku & kamu pakai? Helm ini sangat menggangguku!
(Si cewek itu pun menurutinya)
Keesokan harinya ada berita di koran sebuah sepeda motor menabrak gedung karena rem-nya blong.
Ada dua orang di atas motor itu, tetapi hanya satu orang yang selamat.
Yang terjadi sebenarnya adalah bahwa di tengah jalan saat kecepatan tinggi, si cowok berusaha me-Rem utk memperlambat, tp si cowok menyadari bahwa rem motornya rusak, tapi dia tidak ingin membiarkan kekasihnya tau.
Dia meminta kekasihnya berkata dia mencintainya & merasakan pelukannya, karena dia tau itu untuk terakhir kali baginya.
Dia lalu menyuruhnya memakai helm supaya kekasihnya akan tetap hidup walaupun itu berarti ia yang akan mati...
Pernahkah kamu mencintai seseorang sampai sebesar ini ???
Ataukah hanya sebatas memperhatikannya, peduli, menelpon / mengirimkannya sms hanya untuk membuatnya bahagia?
Pernahkah kamu mengatakan "AKU MENCINTAIMU" padanya?
Ataukah kamu menunggu untuk mengatakan itu disaat kamu berada dlm situasi seperti diatas motor itu?
Jika tidak, kamu masih punya kesempatan untuk mencintainya lebih lagi.
Jangan menyimpan rasa cinta itu hanya di dalam hati. Katakan padanya bahwa kau mencintainya
Karena kamu tidak pernah tau, apakah besok kamu masih punya waktu dan kesempatan untuk mengungkapkannya..
"Menulis di Atas Pasir, Mengukir di Atas Batu"
"Menulis di Atas Pasir, Mengukir di Atas Batu"
Ada sebuah kisah tentang sepasang suami istri yang sedang berjalan melintasi gurun pasir. Di tengah perjalanan, mereka bertengkar dan suaminya menghardik istrinya dengan sangat keras. Istri yang kena hardik, merasa sakit hati, tapi tanpa berkata-kata, dia menulis di atas pasir : HARI INI SUAMIKU MENYAKITI HATIKU.
Mereka terus berjalan, sampai menemu
Ada sebuah kisah tentang sepasang suami istri yang sedang berjalan melintasi gurun pasir. Di tengah perjalanan, mereka bertengkar dan suaminya menghardik istrinya dengan sangat keras. Istri yang kena hardik, merasa sakit hati, tapi tanpa berkata-kata, dia menulis di atas pasir : HARI INI SUAMIKU MENYAKITI HATIKU.
Mereka terus berjalan, sampai menemu
kan
sebuah oasis dimana mereka memutuskan untuk mandi. Si Istri, mencoba
berenang namun nyaris tenggelam dan berhasil diselamatkan suaminya.
Ketika dia mulai siuman dan rasa takutnya hilang dia menulis di sebuah
batu : HARI INI SUAMIKU YG BAIK MENYELAMATKAN NYAWAKU.
Suami bertanya : “Kenapa setelah saya melukai hatimu, kamu menulisnya di atas pasir dan sekarang kamu menulis di atas batu ?”
Istrinya sambil tersenyum menjawab : “Ketika hal buruk terjadi, kita harus menulisnya di atas pasir agar angin maaf datang berhembus dan menghapus tulisan itu dan aku bisa melupakannya…
Dan bila sesuatu yang baik dan luar biasa diperbuat suamiku, aku harus memahatnya di atas batu hatiku, agar tidak bisa hilang tertiup angin waktu dan akan kuingat selamanya.”
Dalam hidup ini sering timbul beda pendapat dan konflik karena sudut pandang yang berbeda. Terkadang malah sangat menyakitkan, oleh karenanya cobalah untuk saling memaafkan dan melupakan masalah yang lalu.
“Belajarlah untuk selalu BISA MENULIS DI ATAS PASIR untuk semua hal yang MENYAKITKAN dan selalu MENGUKIR DI ATAS BATU untuk semua KEBAIKAN ….”.
Semoga kita semua mengerti betapa berharganya sebuah “KELUARGA”.
------
Suami bertanya : “Kenapa setelah saya melukai hatimu, kamu menulisnya di atas pasir dan sekarang kamu menulis di atas batu ?”
Istrinya sambil tersenyum menjawab : “Ketika hal buruk terjadi, kita harus menulisnya di atas pasir agar angin maaf datang berhembus dan menghapus tulisan itu dan aku bisa melupakannya…
Dan bila sesuatu yang baik dan luar biasa diperbuat suamiku, aku harus memahatnya di atas batu hatiku, agar tidak bisa hilang tertiup angin waktu dan akan kuingat selamanya.”
Dalam hidup ini sering timbul beda pendapat dan konflik karena sudut pandang yang berbeda. Terkadang malah sangat menyakitkan, oleh karenanya cobalah untuk saling memaafkan dan melupakan masalah yang lalu.
“Belajarlah untuk selalu BISA MENULIS DI ATAS PASIR untuk semua hal yang MENYAKITKAN dan selalu MENGUKIR DI ATAS BATU untuk semua KEBAIKAN ….”.
Semoga kita semua mengerti betapa berharganya sebuah “KELUARGA”.
------
KISAH TELUR DAN TEMPE GOSONG
KISAH TELUR DAN TEMPE GOSONG
Suatu malam, ibu yg bangun sejak pagi, bekerja keras sepanjang hari, membereskan rumah tanpa pembantu, jam tujuh malam ibu selesai menghidangkan makan malam utk ayah, sangat sederhana, berupa telur mata sapi, tempe goreng, sambal teri dan nasi.
Sayangnya krn mengurusi adik yg merengek, tempe dan telor gorengnya sedikit gosong!
Saya melihat ibu sedikit panik, tapi td
Suatu malam, ibu yg bangun sejak pagi, bekerja keras sepanjang hari, membereskan rumah tanpa pembantu, jam tujuh malam ibu selesai menghidangkan makan malam utk ayah, sangat sederhana, berupa telur mata sapi, tempe goreng, sambal teri dan nasi.
Sayangnya krn mengurusi adik yg merengek, tempe dan telor gorengnya sedikit gosong!
Saya melihat ibu sedikit panik, tapi td
k bisa berbuat banyak, minyak gorengnya sdh habis.
Kami menunggu dgn tegang apa reaksi ayah yg pulang kerja pasti sdh capek, melihat makan malamnya hanya tempe dan telur gosong.
Luar biasa! Ayah dgn tenang menikmati dan memakan semua yg disiapkan ibu dgn tersenyum, dan bahkan berkata, "Bu terima kasih ya!" Lalu ayah terus menanyakan kegiatan sy & adik di sekolah.
Selesai makan, masih di meja makan, sy mendengar ibu meminta maaf krn telor & tempe yg gosong itu & satu hal yg tidak pernah sy lupakan adalah apa yg ayah katakan:
"Sayang, aku suka telor & tempe yg gosong."
Sebelum tidur, sy pergi utk memberikan ciuman selamat tidur kpd ayah, sy bertanya apakah ayah benar-benar menyukai telur & tempe gosong?"
Ayah memeluk sy erat dg kedua lengannya & berkata, "Anakku, ibu sdh bekerja keras sepanjang hari & dia benar-benar sdh capek,
Jadi sepotong telor & tempe yg gosong tdk akan menyakiti siapa pun kok!"
Ini pelajaran yg saya praktekkan di tahun-tahun berikutnya; "Belajar menerima kesalahan orang lain, adalah satu kunci yg sangat penting utk menciptakan sebuah hubungan yg sehat, bertumbuh & abadi.
Ingatlah emosi tdk akan pernah menyelesaikn masalah yg ada, jd selalulah berpikir dewasa. Mengapa sesuatu hal itu bisa terjadi pasti punya alasannya sendiri.
Janganlah kita menjadi org yg egois hanya mau dimengerti, tapi tdk mau mengerti.
Tua itu pasti, tapi Dewasa itu PILIHAN.
Kami menunggu dgn tegang apa reaksi ayah yg pulang kerja pasti sdh capek, melihat makan malamnya hanya tempe dan telur gosong.
Luar biasa! Ayah dgn tenang menikmati dan memakan semua yg disiapkan ibu dgn tersenyum, dan bahkan berkata, "Bu terima kasih ya!" Lalu ayah terus menanyakan kegiatan sy & adik di sekolah.
Selesai makan, masih di meja makan, sy mendengar ibu meminta maaf krn telor & tempe yg gosong itu & satu hal yg tidak pernah sy lupakan adalah apa yg ayah katakan:
"Sayang, aku suka telor & tempe yg gosong."
Sebelum tidur, sy pergi utk memberikan ciuman selamat tidur kpd ayah, sy bertanya apakah ayah benar-benar menyukai telur & tempe gosong?"
Ayah memeluk sy erat dg kedua lengannya & berkata, "Anakku, ibu sdh bekerja keras sepanjang hari & dia benar-benar sdh capek,
Jadi sepotong telor & tempe yg gosong tdk akan menyakiti siapa pun kok!"
Ini pelajaran yg saya praktekkan di tahun-tahun berikutnya; "Belajar menerima kesalahan orang lain, adalah satu kunci yg sangat penting utk menciptakan sebuah hubungan yg sehat, bertumbuh & abadi.
Ingatlah emosi tdk akan pernah menyelesaikn masalah yg ada, jd selalulah berpikir dewasa. Mengapa sesuatu hal itu bisa terjadi pasti punya alasannya sendiri.
Janganlah kita menjadi org yg egois hanya mau dimengerti, tapi tdk mau mengerti.
Tua itu pasti, tapi Dewasa itu PILIHAN.
PIKIRAN menentukan PERKATAAN & PERBUATAN
Pasangan muda yang baru menikah menempati rumah di sebuah komplek perumahan.
Suatu pagi, sewaktu sarapan, si istri melalui jendela kaca. Ia melihat tetangganya sedang menjemur kain.
"Cuciannya kelihatan kurang bersih ya", kata sang istri.
"Sepertinya dia tidak tahu cara mencuci pakaian dengan benar.
Mungkin dia perlu sabun cuci yang lebih bagus."
Suaminya menoleh, tetapi hanya diam dan tidak me
Suatu pagi, sewaktu sarapan, si istri melalui jendela kaca. Ia melihat tetangganya sedang menjemur kain.
"Cuciannya kelihatan kurang bersih ya", kata sang istri.
"Sepertinya dia tidak tahu cara mencuci pakaian dengan benar.
Mungkin dia perlu sabun cuci yang lebih bagus."
Suaminya menoleh, tetapi hanya diam dan tidak me
mberi komentar apapun.
Sejak hari itu setiap tetangganya menjemur pakaian, selalu saja sang istri memberikan komentar yang sama tentang kurang bersihnya si tetangga mencuci pakaiannya.
Seminggu berlalu, sang istri heran melihat pakaian-pakaian yang dijemur tetangganya terlihat cemerlang dan bersih, dan dia berseru kepada suaminya:
"Lihat, sepertinya dia telah belajar bagaimana mencuci dengan benar. Siapa ya kira-kira yang sudah mengajarinya? "
Sang suami berkata, "Saya bangun pagi-pagi sekali hari ini dan membersihkan jendela kaca kita."
Dan begitulah kehidupan.
Apa yang kita lihat pada saat menilai orang lain tergantung kepada kejernihan pikiran (jendela) lewat mana kita memandangnya..
Jika HATI kita bersih, maka bersih pula PIKIRAN kita.
Jika PIKIRAN kita bersih, maka bersih pula PERKATAAN kita.
Jika PERKATAAN kita bersih (baik), maka bersih (baik) pula PERBUATAN kita.
Hati, pikiran, perkataan dan perbuatan kita mencerminkan hidup kita.
Jika ingin hidup kita berkembang, maju, dan sukses (bersih/baik) Maka kita hrs menjaga hati, pkiran, perkataan dan Perbuatan kita tetap baik. Karena itulah segalanya.
HATI menentukan PIKIRAN..
PIKIRAN menentukan PERKATAAN & PERBUATAN
Sejak hari itu setiap tetangganya menjemur pakaian, selalu saja sang istri memberikan komentar yang sama tentang kurang bersihnya si tetangga mencuci pakaiannya.
Seminggu berlalu, sang istri heran melihat pakaian-pakaian yang dijemur tetangganya terlihat cemerlang dan bersih, dan dia berseru kepada suaminya:
"Lihat, sepertinya dia telah belajar bagaimana mencuci dengan benar. Siapa ya kira-kira yang sudah mengajarinya? "
Sang suami berkata, "Saya bangun pagi-pagi sekali hari ini dan membersihkan jendela kaca kita."
Dan begitulah kehidupan.
Apa yang kita lihat pada saat menilai orang lain tergantung kepada kejernihan pikiran (jendela) lewat mana kita memandangnya..
Jika HATI kita bersih, maka bersih pula PIKIRAN kita.
Jika PIKIRAN kita bersih, maka bersih pula PERKATAAN kita.
Jika PERKATAAN kita bersih (baik), maka bersih (baik) pula PERBUATAN kita.
Hati, pikiran, perkataan dan perbuatan kita mencerminkan hidup kita.
Jika ingin hidup kita berkembang, maju, dan sukses (bersih/baik) Maka kita hrs menjaga hati, pkiran, perkataan dan Perbuatan kita tetap baik. Karena itulah segalanya.
HATI menentukan PIKIRAN..
PIKIRAN menentukan PERKATAAN & PERBUATAN
menyentuh
Pagi itu klinik sangat sibuk. Sekitar jam 9:30
seorang kakek berusia 70-an datang untuk membuka jahitan pada luka di
ibu-jarinya. Saya menyiapkan berkasnya dan memintanya menunggu, sebab
semua dokter masih sibuk dan mungkin dia baru dapat ditangani setidaknya
1 jam lagi. Sewaktu menunggu, pria tua itu nampak gelisah,
sebentar-sebentar melirik ke jam tangannya. Saya merasa kasihan. Jadi
ketika seda
ng luang saya sempatkan untuk
memeriksa lukanya. Nampaknya cukup baik, sudah kering dan tinggal
membuka jahitan dan memasang perban baru. Pekerjaan yang tidak terlalu
sulit, sehingga atas persetujuan dokter, saya putuskan untuk
melakukannya sendiri.
Sambil menangani lukanya, saya bertanya apakah dia punya janji lain hingga tampak terburu-buru. Lelaki tua itu menjawab tidak, dia hendak ke rumah jompo untuk makan siang bersama istrinya, seperti yang dilakukannya sehari-hari. Dia menceritakan bahwa istrinya sudah dirawat disana sejak beberapa waktu dan istrinya mengidap penyakit Alzheimer. Lalu saya bertanya apakah istrinya akan marah kalau dia datang terlambat. Dia menjawab bahwa istrinya sudah tidak lagi dapat mengenalinya sejak 5 tahun terakhir. Saya sangat terkejut dan berkata,
“Bapak masih pergi kesana setiap hari walaupun istri Bapak tidak kenal lagi?” Dia tersenyum sambil tangannya menepuk tangan saya dan berkata, “Dia memang tidak mengenali saya, tetapi saya masih mengenali dia, kan?”
Saya terus menahan air mata sampai kakek itu pergi, tangan saya masih tetap merinding. Cinta kasih seperti itulah yang saya mau dalam hidupku. Cinta sesungguhnya tidak bersifat fisik atau romantis. Cinta sejati adalah menerima apa adanya yang terjadi saat ini, yang sudah terjadi, yang akan terjadi, dan yang tidak akan pernah terjadi.
Bagi saya pengalaman ini menyampaikan satu pesan penting : Orang yang paling berbahagia tidaklah harus memiliki segala sesuatu yang terbaik, melainkan mereka dapat berbuat yang terbaik dengan apa yang mereka miliki…^^
Sambil menangani lukanya, saya bertanya apakah dia punya janji lain hingga tampak terburu-buru. Lelaki tua itu menjawab tidak, dia hendak ke rumah jompo untuk makan siang bersama istrinya, seperti yang dilakukannya sehari-hari. Dia menceritakan bahwa istrinya sudah dirawat disana sejak beberapa waktu dan istrinya mengidap penyakit Alzheimer. Lalu saya bertanya apakah istrinya akan marah kalau dia datang terlambat. Dia menjawab bahwa istrinya sudah tidak lagi dapat mengenalinya sejak 5 tahun terakhir. Saya sangat terkejut dan berkata,
“Bapak masih pergi kesana setiap hari walaupun istri Bapak tidak kenal lagi?” Dia tersenyum sambil tangannya menepuk tangan saya dan berkata, “Dia memang tidak mengenali saya, tetapi saya masih mengenali dia, kan?”
Saya terus menahan air mata sampai kakek itu pergi, tangan saya masih tetap merinding. Cinta kasih seperti itulah yang saya mau dalam hidupku. Cinta sesungguhnya tidak bersifat fisik atau romantis. Cinta sejati adalah menerima apa adanya yang terjadi saat ini, yang sudah terjadi, yang akan terjadi, dan yang tidak akan pernah terjadi.
Bagi saya pengalaman ini menyampaikan satu pesan penting : Orang yang paling berbahagia tidaklah harus memiliki segala sesuatu yang terbaik, melainkan mereka dapat berbuat yang terbaik dengan apa yang mereka miliki…^^
Batu Yang Kusam
Batu Yang Kusam
Alkisah, suatu hari seorang gadis menemukan sebongkah batu kusam di pinggir jalan. Meski hanya batu biasa, si gadis memungutnya dan menyimpannya baik-baik. Bahkan, setiap hari ia menggosok batu itu dengan hati-hati. Batu yang bukan permata itu dan karena terus digosok dan digosok, lama-kelamaan berubah menjadi mengkilat dan bersinar.
Si gadis pun membawa batu itu ke tukang permat
Alkisah, suatu hari seorang gadis menemukan sebongkah batu kusam di pinggir jalan. Meski hanya batu biasa, si gadis memungutnya dan menyimpannya baik-baik. Bahkan, setiap hari ia menggosok batu itu dengan hati-hati. Batu yang bukan permata itu dan karena terus digosok dan digosok, lama-kelamaan berubah menjadi mengkilat dan bersinar.
Si gadis pun membawa batu itu ke tukang permat
a
untuk diolah menjadi sebuah liontin yang indah. Ajaibnya, di tangan
ahlinya batu biasa itu berubah hingga menyerupai batu permata. Begitu
berkilau dan sangat indah. Si gadis sungguh gembira melihat batu
biasanya bisa berubah begitu rupa. Ia pun memamerkannya pada siapa pun
yang dijumpainya. Sudah diduga, semua orang yang melihat mengira batu
itu adalah permata yang mahal harganya. Si gadis semakin percaya diri
dan selalu memakai liontinnya ke mana pun ia pergi.
Hingga suatu hari liontin batu itu terlepas dari ikatannya. Si gadis baru menyadari lama setelah itu, jadi dia sungguh tak tahu liontinnya hilang di mana. Hal ini membuatnya sangat sedih. Dia pun jadi kehilangan selera makan dan tidak bersemangat. Sampai suatu hari ada seorang kakek yang melihatnya sedang termenung. Bertanyalah si kakek tentang kesedihannya. Si gadis pun menceritakan semuanya.
Setelah si gadis selesai bercerita, berkatalah si kakek, "Anakku, sadarilah semua hal yang telah kamu lalui itu adalah proses menuju keberhasilanmu. Dulu kamu menemukan batu kusam di jalanan. Lalu, kamu mengambil dan menjaganya baik-baik. Selalu menggosoknya hingga akhirnya menjadi mengkilat. Dan di tangan tukang permata, batu itu menjadi lebih indah lagi, mirip permata. Ketahuilah, semua itu hanyalah proses. Dulu kamu tekun menjalani setiap tahapan mengubah batu kusam menjadi sebuah benda yang terlihat berharga.
Batu itu sebenarnya hanyalah batu. Keuletanmu menjaganya itulah yang membuatnya lebih bernilai.
Lalu, mengapa kamu jadi bersedih hanya karena kehilangan batu itu? Lihat di sekitarmu, masih banyak batu-batu kusam yang dapat kau jadikan batu yang berkilat indah. Ciptakan lebih banyak karya indah yang akan menceriakan hari-harimu dan membuat wajahmu berseri-seri. Itu jauh lebih penting daripada meratapi seonggok batu kusam yang hilang."
Seketika si gadis diliputi kecerahan dan keceriaan. Dia sudah menyadari kebodohannya. Si gadis pun dengan gembira siap berusaha dan memproses lagi batu kusam menjadi permata.
Sahabat yang berbahagia,
Kesuksesan sejati itu selalu diraih melalui proses perjuangan yang panjang dan berliku. Saat kesuksesan sudah di tangan kita, bisa saja kita mengalami kemunduran, kegagalan, dan kebangkrutan. Tidak usah takut, hidup ini selalu berubah. Jika kita gagal, kita frustrasi; dan saat kita sukses, kita lupa diri. Inilah baru bencana yang sebenarnya. Selama kita bersedia berjuang dari awal lagi dan tekun menjalani langkah demi langkahnya, keberhasilan demi keberhasilan akan kembali pada kita. Dan kebahagiaan akan kembali kita rasakan.
Hingga suatu hari liontin batu itu terlepas dari ikatannya. Si gadis baru menyadari lama setelah itu, jadi dia sungguh tak tahu liontinnya hilang di mana. Hal ini membuatnya sangat sedih. Dia pun jadi kehilangan selera makan dan tidak bersemangat. Sampai suatu hari ada seorang kakek yang melihatnya sedang termenung. Bertanyalah si kakek tentang kesedihannya. Si gadis pun menceritakan semuanya.
Setelah si gadis selesai bercerita, berkatalah si kakek, "Anakku, sadarilah semua hal yang telah kamu lalui itu adalah proses menuju keberhasilanmu. Dulu kamu menemukan batu kusam di jalanan. Lalu, kamu mengambil dan menjaganya baik-baik. Selalu menggosoknya hingga akhirnya menjadi mengkilat. Dan di tangan tukang permata, batu itu menjadi lebih indah lagi, mirip permata. Ketahuilah, semua itu hanyalah proses. Dulu kamu tekun menjalani setiap tahapan mengubah batu kusam menjadi sebuah benda yang terlihat berharga.
Batu itu sebenarnya hanyalah batu. Keuletanmu menjaganya itulah yang membuatnya lebih bernilai.
Lalu, mengapa kamu jadi bersedih hanya karena kehilangan batu itu? Lihat di sekitarmu, masih banyak batu-batu kusam yang dapat kau jadikan batu yang berkilat indah. Ciptakan lebih banyak karya indah yang akan menceriakan hari-harimu dan membuat wajahmu berseri-seri. Itu jauh lebih penting daripada meratapi seonggok batu kusam yang hilang."
Seketika si gadis diliputi kecerahan dan keceriaan. Dia sudah menyadari kebodohannya. Si gadis pun dengan gembira siap berusaha dan memproses lagi batu kusam menjadi permata.
Sahabat yang berbahagia,
Kesuksesan sejati itu selalu diraih melalui proses perjuangan yang panjang dan berliku. Saat kesuksesan sudah di tangan kita, bisa saja kita mengalami kemunduran, kegagalan, dan kebangkrutan. Tidak usah takut, hidup ini selalu berubah. Jika kita gagal, kita frustrasi; dan saat kita sukses, kita lupa diri. Inilah baru bencana yang sebenarnya. Selama kita bersedia berjuang dari awal lagi dan tekun menjalani langkah demi langkahnya, keberhasilan demi keberhasilan akan kembali pada kita. Dan kebahagiaan akan kembali kita rasakan.
Langganan:
Postingan (Atom)

